UAS KEAKSARAAN

Nama : Irfan Satriansyah Manurung
Nim : 1181171013
Kelas : PenMas Reg A 2018
Mata. K : Keaksaraan

1. uraikan filosofi pendidikan keaksaraan
Apa filosofi dan dari keaksaraan? Dahulu orang yang kita yakini sebagai orang buta aksara, ternyata dapat melakukan hal-hal seperti di atas, baik melalui musik, drama, lagu, adat istiadat, pola pakaian, hikayat, sejarah dan sebagainya. Hal- haltersebut ternyata pula telah dilakukan dengan pola terstruktur yang membantu mereka mengingat dan berkomunikasi dengan sesamanya, bahkan dengan perbedaan ruang dan waktu sekalipun. Orang yang buta aksara bisa jadi mempunyai pengetahuan yang luas, contoh orang di pedalaman ternyata sudah mempunyai pengetahuan yangkompleks mengenai cara bertanam, memelihara berbagai hewan ternak, membangun rumah dan membuat berbagai macam kerajinan. Mereka menguasai pendidikan dasar yang diperlukan untuk bertahap hidup, bahkan dalam kondisi yang sangat sulit sekalipun.Pengetahuan keaksaraan ala pendidikan formal tidak terlalu diperlukan oleh mereka yang tinggal di wilayah pedesaan seperti gambaran di atas. Banyak orang bisa bertahan hidup tanpa pendidikan keaksaraan, dan mereka mampu membuat strategi yang efektif untuk menyikapi hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis. Saat mereka harus melakukan ha-hal yang berkaitan dengan baca tulis misalnya, mereka meminta bantuan orang lain atau menggunakan jasa para ahli (orang yang sudah melek aksara). Tetapi yang pasti bahwa, kehidupan akan terus berubah dan prospek perubahan ke depan jauh seperti yang dibayangkan. Oleh karena itu, sangat kecil kemungkinannya di suatu tempat tidak memerlukan pentingnya pendidikan keaksaraan untuk sebuah perubahan. Ke depan kebutuhan baca tulis menjadi penting bahkan untuk mereka yang buta aksara sekalipun.

2. Deskripsikan sejarah keaksaraan di dunia dan di Indonesia
Perkembangan literacy di Negara maju, seperti di Inggris sudah mulai diperkenalkan sejak abad 12-13 melalui BIBLE yaitu Basic Information Before Leaving Earth atau jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia merupakan Informasi Dasar Sebelum Meninggalkan Bumi. Jadi, masyarakat akan dibekali berbagai informasi selama hidupnya agar mereka mengetahui tentang berbagai hal. Kemudian pada abad ke 18, di Walsh setiap orang sudah mampu membaca bible, berbeda dengan di Inggris yang baru mencapai ½ penduduknya yang dapat membaca bible. Adapun kemampuan membaca bible di Amerika dan New England sudah mencapai 90%. Di Finlandia, Swedia dan Estonia kemampuan membaca ditutup 100 % namun kemampuan membaca pada ratio perempuan di Swedia belum dapat dibarengi dengan kemampuan menulisnya hingga pada abad ke-19.
Mulai abad 19 hingga pada tahun 1980 dikembangkan Literacy Traditional yang meliputi kemampuan membaca, menulis, mengeja, mendengar dan berbicara. Pada saat itu pula, Amerika menambahkan berbagai kemampuan tersebut dengan kemampuan pemaknaan, fungsional dan kemampuan berhitung. Scotlandia juga menambahkan kembali kemampuannya dalam memecahkan masalah dan memperoleh informasi. Berdasarkan standar literacy dari masing-masing Negara tersebut, mereka memiliki tujuan dasar yang sama yaitu agar masyarakatnya mampu memperoleh dan memanfaatkan informasi yang ada, kemudian informasi yang sudah mereka miliki dapat dijadikan sebagai sumber ataupun bahan dalam mengungkapkan pendapat dan gagasan (ide). Sehingasyarakat dapat membuat keputusan dan memecahkan masalah, baik dalam keluarga, pekerjaan ataupun sebagai warga negara dan sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Sampai pada tahun 1990, dibeberapa Negara maju seperti Jepang, Korea, Taiwan, Negara-negara Eropa dan Amerika sudah dikembangkan literacy komputer (teknologi), information literacy dan multimedia literacy. Perkembangan literacy tersebut sudah mulai melibatkan kemampuan masyarakatnya dalam konsep literacy berbasis digital ataupun tekonologi dan bukan sekedar baca tulis hitung saja. Tujuannya agar masyarakat mampu bergaul dalam kehidupan sosial yang lebih luas, secara tidak langsung dengan adanya tujuan tersebut maka masyarakat dapat berkembang dan belajar secara otodidak melalui berbagai pengalaman yang dimilikinya. Dalam hal ini informasi yang mereka peroleh dan wawasan yang semakin luas dapat memberikan dampak positif bagi diri sendiri maupun orang lain. Dijelaskan pula tujuan lainnya yaitu mampu meningkatkan kemampuan ekonomi dan usaha komersial lain di lingkungannya, melakukan browsing, menyampaikan pesan melalui internet, serta menjadi programmer. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari beberapa tujuan literacy pada tahun 90-an di Negara-negara maju ini adalah melalui inovasi yang dikembangkan dalam memperoleh wawasan dengan melibatkan ilmu teknologi, yang cenderung sifat manusia tidak akan pernah puas dan memiliki tingkat penasaran yang cukup tinggi serta masyarakat dapat lebih termotivasi untuk memperoleh ilmu secara global.
Berbeda dengan literacy di Indonesia pada tahun 90-an ini baru mulai dikembangkan Keaksaraan Fungsional (KF) yang didalamnya memfokuskan pada strategi diskusi, membaca, menulis, berhitung dan aksi untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi warga belajar dalam kemampuan sehari-hari. Apabila dibandingkan, Indonesia cukup tertinggal jauh oleh Negara-negara maju yang disebabkan karena Terbatasnya jumlah penduduk Indonesia yang mendapat pendidikan.Dapat kita ketahui bahwa masih banyak masyarakat yang berada di daerah pesisir atau di daerah pedalaman yang belum memperoleh pendidikan. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya seperti, faktor aksesibilitas, faktor pemahaman yang kurang, faktor ekonomi, dan lain sebagainya.

3. Deskripsikan keaksaraan dasar, lanjutan dan fungsional
Pendidikan keaksaraan dasar merupakan layanan pendidikan nonformal yang diperuntukan bagi masyarakat yang berusia 15-59 tahun yang masih buta aksara. Dalamimplementasi kebijakan pendidikan keaksaraan dasar terdapat komponen- komponen yang dikaji sebagai berikut:
Komunikasi, berupa sosialisasi mengenai kebijakan pendidikan keaksaraan dasar memberikan pelatihan berupa Bimbingan Teknis, Tutor Keaksaraan Dasar. Bentuk komunikasi yang lainnya adalah sosialisasi kepada masyarakat mengenai pendidikan keaksaraan dasar.
 Sumber daya, berupa sumber daya manusia,sumber daya finansial, sumber daya saranadan prasarana.
 Disposisi, adalah sikap positif yang ditunjukan dalam mengimplementasikan kebijakan pendidikan keaksaraan dasar, dengan adanya komitmen untuk terus mengimplementasikan kebijakan tersebut.

Pendidikan Keaksaraan Lanjutan adalah layanan pendidikan keaksaraan yang menyelenggarakan pembelajaran bagi peserta didik yang telah selesai melaksanakan pendidikan keaksaraan dasar dalam rangka mengembangkan kompetensi bagi warga masyarakat pasca pendidikan keaksaraan dasar. Pendidikan Keaksaraan Lanjutan terdiri atas : Pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) Pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) adalah layanan pendidikan keaksaraan yang menyelenggarakan pembelajaran bagi peserta didik yang telah selesai melaksanakan pendidikan keaksaraan usaha dasar dalam rangka mengembangkan kompetensi bagi warga masyarakat pasca keaksaraan dasar, yang menekankan peningkatan keberaksaraan dan pengenalan kemampuan berusaha. Sedangkan Pendidikan Multikeaksaraan Pendidikan Multikeaksaraan merupakan pendidikan keaksaraan yang menekankan peningkatan keberagaman keberaksaraan dalam segala aspek kehidupan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan keterampilan profesi, pekerjaan atau kemahiran yang dimiliki dan diminati peserta didik. Pendidikan multikeaksaraan diarahkan sesuai dengan minat peserta didik tentang wawasan keilmuan dan teknologi, kesehatan dan olahraga, seni, budaya, atau politik dan kebangsaan, serta pekerjaan atau profesi (Kemendikbud : 2017).
keaksaraan fungsional sebagaimana dikemukakan oleh Beynham (1995:1) yang menyatakan bahwa pada dasarnya keaksaraan termasuk ideologi. Dengan berupa ideologi tentu saja keaksaraan tidak bersifat netral, semuanya tergantung pada keputusan sebagai sesuatu yang tidak netral, maka program pendidikan keaksaraan harus mempertimbangkanfaktor-faktor lain yang memengaruhi keaksaraan tersebut.UNESCO mendefinisikan kemampuan keaksaraan atau melek aksara sebagai kemampuan seseorang untuk membaca dan menulis kalimat sederhana yang diperlukan dalam kehidupan sehari- hari, dan seseorang dikatakan mempunyai kemampuan keaksaraan fungsional jika seseorang tersebut dapat terlibat dalam aktivitas dimana kemampuan keaksaraan merupakan prasyarat sebagai effective function kelompok dan sebagai dasar bagi dirinya untuk meningkatkan kemampuan membaca, menulis dan berhitungnya sendiri.Pada pelaksanaannya, keaksaraan fungsional merupakan penyempurnaan pendekatan bagi program pemberantasan buta aksara yang menitikberatkan pada proses dari, oleh dan untuk warga belajar dengan strategi pembelajarannya melalui diskusi, membaca, menulis, berhitung dan aksi. Keaksaraan fungsional juga merupakan suatu pendekatan atau cara untuk mengembangkan kemampuan warga belajar dalam menguasai dan menggunakan keterampilan menulis, membaca, berhitung, berfikir, menga mati, mendengar dan berbicara yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar warga belajar. Oleh karena itu, keaksaraan fungsional bertujuan untuk mengem bangkan kemampuan dan keterampilan membaca, menulis dan berhitung dengan harapan warga belajar dapat menggunakannya atau berfungsi untuk pemecahan masalah dalam kehidupannya sehari-hari dan kahidupan masyarakat di sekitarnya.

4. Media pembelajaran keaksaraan bebasis IT
Media yang saya gunakan adalah media berbasis IT yang bernama quizizz, dengan menggunakan media ini tutor dan warga belajar dapat menjawab soal pilihan berganda dengan secara online dan mudah yang sebelumnya telah di buat oleh tutor pertanyaan disertai jawabannya yang sudah tentunya telah disesuaikan untuk warga belajarnya agar warga belajar mampu melatih pengetahuan yang telah di pelajari sebelumnya.
Untuk cara penggunaannya bisa dilihat di YouTube : https://youtu.be/EuXgrLZlnYU


5. Buatlah 1 rancangan pembelajaran keaksaraan dasar, lanjutan maupun fungsional beserta rpp dan rancangan penilaian
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Keaksaraan Fungsional
Mata Pelajaran               : quizizz
Pertemuan Ke                : 1
Alokasi Waktu               : 5 - 10 menit
Bulan                             : Maret  pertemuan pertama

Standar Kompetensi (SK):
Mampu menjawab soal pilihan berganda sederhana sesuai kemampuan warga yang telah dibuat oleh tutor
tensi Dasar (KD):
Menjawab soal pilihan berganda sederhana sesuai kemampuan warga yang telah dibuat oleh tutor

Indikator :
1. dapat masuk kedalam quizizz
2. Menjawab pertanyaan quizizz dengan benar
3. Mencapai rata-rata nilai pada quizizz

I.Tujuan Pembelajaran
Agar Warga Belajar dapat :
Melatih pengetahuan dalam warga belajar
 Melatih keberpengalaman menggunakan IT
Menjawab soal yang telah dipelajari

II.Materi Pembelajaran
Menjawab pertanyaan quizizz (pilihan berganda)

III.Metode
Penugasan
Tanya Jawab

IV.Langkah-langkah Pembelajaran
a. Kegiatan Awal
• memasuki quizizz pada gadget masing-masing
b. Kegiatan Inti
• Tutor memberikan kode masuk quizizz
 • Warga Belajar menjawab pertanyaan quizizz pilihan berganda tersebut
• Tutor dapat ngetahui nilai yang didapatkan

c. Kegiatan Akhir
• warga belajar dapat mengetahui nilai yang diperoleh
V. Alat dan Sumber Belajar
Gadget ( smartphone/ tablet )
Internet
Kode quizizz

Komentar